Kembali (Cerpen)
Hujan deras mewarnai suasana kelam di sebuah jalan raya. Aku dikelilingi semua orang namun aku tidak bisa menyadarinya. Aku sedang memegang seorang perempuan manis berkacamata, yang selalu kukenal periang dan menyenangkan. Ada mobil hitam di belakangku, menampang bagai simbol yang menyeramkan. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi semua sudah terjadi. Dia sudah pergi, meninggalkanku sendirian di dunia fana ini. Aku menangis tersedu-sedu dan menjerit-jerit serasa sakit, tak perduli semua orang menganggapku orang gila atau apa. Selang beberapa menit kemudian, ambulans datang dan aku hanya melihat dari kejauhan. Aku tidak ingin kejadian ini terjadi lagi.
Setahun kemudian, akhirnya aku masuk SMA favorit di kotaku. Kupegang ijazahku dengan senang hati di depan sekolahku tercinta. Tanpa sadar aku menerawang awan di atas sana, membuatku teringat akan sesuatu. Suara decitan ban mobil dan teriakan seorang perempuan terngiang-ngiang dalam telingaku. Tidak! Aku tidak ingin teringat kejadian itu lagi. Apa aku tidak boleh berbahagia sedikit saja atas keberhasilanku ini?
Siluet bayangan laki-laki mendekatiku dengan cepat. Tanpa kusadari, ia menabrakku keras dan membuatku terjerembab ke tanah. Skateboard milik laki-laki itu terpelanting dan jatuh. Kami jadi sama-sama jatuh, sakit sekali. 3 detik kemudian, aku melihat wajah lelaki yang menabrakku samar-samar karena meringis kesakitan. Ia langsung berdiri dan mengambil skateboardnya tanpa memperdulikanku yang masih terduduk lemas di tanah. Sangat menyebalkan.
" Hei! Apa kau tidak melihat orang sebesar aku?!" Seruku padanya.
Dia tidak menghiraukanku lagi. Sudah cukup, kesabaranku sudah habis ditelan waktu. Dia masih mengelus-elus skateboard jeleknya. Akupun berdiri perlahan-lahan sambil membersihkan tanah-tanah yang mungkin ada di bajuku. Lalu aku mendekatinya dan menjitak kepalanya. Akhirnya dia menoleh padaku dan tersenyum datar.
“ Dasar perusak. Kau hampir merusak skateboardku.” Katanya tanpa rasa bersalah.
“ Apa katamu? Kau sudah menabrakku! Laki-laki macam apa kau ini?” Seruku padanya.
Dia tidak bergeming. Bukannya meminta maaf, dia malah membalikkan badannya dan menunjuk sekolahku. Aku tidak mengerti maksudnya, jadi aku menampakkan wajah kebingungan.
“ Kau mau ke sekolah kan? Sana pergi.”
Aku terdiam kaku. Aku berpikir, bagaimana bisa aku bertemu laki-laki semacam dia? Laki-laki itupun pergi menggunakan skateboardnya, menjauhiku hingga aku tak melihat batang hidungnya lagi. Angin terus berhembus kencang, membuat rambutku terus terbang diterpa angin. Geram dan bingung campur jadi satu, menyebalkan.
Matahari tepat diatasku. Sepanjang perjalanan pulang aku terus tersenyum. Aku bertemu teman-teman baru yang menyenangkan. Kami saling bertukar nomor handphone dan biodata masing-masing. Gurunyapun sangat ramah, hingga kami bisa saling bercanda tawa hingga pelajaran usai. Semoga hari ini selalu terjadi di keesokan harinya. Aku tetap tersenyum dan berjalan sambil mengingat-ngingat wajah teman-temanku yang aneh-aneh. Namun, saat kulalui sebuah jalan, langkahku terhenti. Ini, tempat Vina tertabrak. Memori demi memori menusuk pikiranku, seperti aku memasuki sebuah dimensi tak bertuan. Kupegang tasku erat-erat, memejamkan mataku untuk mengurangi tusukan itu. Namun tidak bisa, rasanya dada ini sangat sesak. Kakiku tak kuat untuk menumpuku lagi. Aku jatuh dan pikiranku kosong. Sepertinya aku pingsan. Aneh sekali.
(Hai, Era. Apa kau tak mengerti arti sungai mengalir? Apa kau tak mengerti arti hujan membasahimu? Apa kau tak mengerti arti raungan seorang perempuan di dekatmu? Kini kubiarkan kau mengerti. Tumpulah badanmu, dan gerakkan imajinasimu. Kuberikan kau kekuatan mengetahui semua itu. Berhati-hatilah menggunakan kekuatan itu, naungi semua belahan hatimu, lalu kekuatan itu akan tertindas oleh cahaya dan mati. Sorrow is your power.)
Aku terbangun kaget. Mataku agak melotot, badanku berkeringat, seluruh ototku tegang luar biasa. Aku panik, aku bingung dengan siapa aku berbicara semenit lalu. Aku melihat sekeliling. Vas bunga, saluran infus di tangan kananku, kotak obat, baju putih yang kupakai, semuanya sudah kukenal barang-barang ini. Ruangannya gelap, aku takut terhadap kegelapan. Ini rumah sakit, tapi aku tak tahu rumah sakit mana ini. Aku teringat, saat sebelum aku pingsan, aku berada di jalan tempat Vina tertabrak. Sesudah itu, aku lemas dan tak bisa membuka mataku. Siapa yang membawaku kesini? Bagaimana aku bisa berada di sini? Sejuta pertanyaan terngiang-ngiang di kepalaku. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku menghembuskan nafas lega, karena yang datang adalah ibuku.
“ Ternyata kau sudah siuman. Syukurlah.” Kata ibuku sambil tersenyum. “ Bagaimana kabarmu? Badanmu masih lemaskah?”
Kugeleng-gelengkan kepalaku pelan, menandakan bahwa aku sudah tidak apa-apa. Ibu lalu menaruh sesuatu di atas meja disamping ranjangku. Sebentar, rasanya aku pernah melihat itu sebelumnya.
“ Syukurlah kalau begitu. Untung ada seorang laki-laki sebaya denganmu menolongmu segera dan mengantarmu ke rumah sakit ini. Entah darimana, dia tahu rumah kita lalu mengajakku ke rumah sakit untuk menemuimu. Aku belum sempat menanyakan namanya, tapi firasatku mengatakan kalau dia adalah teman sekolahmu. Oh iya, kau sudah pingsan selama 2 hari.” Jelas Ibu padaku.
“ Ibu, itu apa bu?” Tanyaku sambil menunjuk barang yang ada di atas meja.
“ Itu gantungan kunci dari lelaki yang membantumu. Agak aneh dia memberikan gantungan ini.”
Jangan-jangan, orang ini adalah laki-laki yang menabrakku 2 hari lalu. Warna gantungan kunci skateboard itu sama persis dengan warna skateboard miliknya. Geramku padanya muncul lagi. Aku tak sudi memikirkannya terlalu dalam. Tapi aku harus bertemu dengannya , supaya aku bisa meyakinkan hatiku kalau memang dia yang menyelamatkanku.
Akhirnya aku bisa masuk sekolah lagi setelah beberapa hari berada di rumah sakit. Tapi aku tak bisa menemukan laki-laki itu. Ternyata dia bukan teman sekolahku. Huh, dia sangat misterius, aku mengakuinya. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang di bangku kelasku.
(Belahan jiwamu akan datang.)
Kepalaku langsung pening mendengar sebuah kalimat yang aneh. Kupegang kepalaku erat-erat, menahan rasa sakit yang aneh ini. Tanpa kusadari, guru yang mengajarku sudah datang.
(2 detik lagi.)
Kepalaku sakit lagi. Apa-apaan ini? Darimana sakit ini berasal?
Seorang laki-lakipun datang dari arah pintu. Seseorang yang sangat kukenal, dan juga sangat kubenci dari pertama. Dia laki-laki yang menabrakku. Suatu kebetulan yang aneh. Dengan sekejap teman-teman sekelasku heboh melihat wajahnya yang masih asing di mata mereka, atau mungkin karena wajahnya yang lumayan elok dipandang. Satu hal lagi, dia selalu tak lupa membawa skateboard kesayangannya.
“ Nak, silahkan perkenalkan dirimu.” Kata guruku padanya.
Wajah cueknya terpancar begitu tajam. Aku sangat tidak suka tatapannya. Dan sekarang ia sedang melihatku dengan tatapan itu.
“ Namaku Hangga. Suka bermain skateboard.” Katanya singkat.
Suasana kelas menjadi gaduh, mendengar pernyataannya yang begitu singkat, padat, dan jelas. Aku sebenarnya ingin menjitaknya seperti dulu, tapi tentu saja tidak karena ada guruku di depan kelas. Aku memasang wajah benci dan gemas kepadanya. Dia membalasku dengan kerlingan mata, membuatku rasanya ingin muntah.
“ Bu, aku ingin duduk di sebelah Era. Anak disebelahnya dipindahkan ke tempat yang kosong.” Katanya tajam.
Anehnya, tanpa basa-basi lagi guruku memerintahkan teman disebelahku untuk pindah dan orang jelek itu berjalan ke arahku dan duduk tepat disampingku. Sepertinya dia punya sebuah kekuatan untuk mempengaruhi orang. Aku sedikit menjauhinya, tidak mau bersentuhan bahu dengannya. Dia hanya menatapku datar, lalu kembali melihat ke depan setelah guru kami berteriak agar kami diam. Tidak seperti yang kuinginkan, hidupku akan hancur karena dia.
Hari demi hari aku tetap tak mau berbicara dengan Hangga, walau dia terus memaksaku untuk bicara dengannya. Dia memberiku minuman, dia memberiku makanan, dia mngajakku jalan-jalan, dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang, semuanya kutolak. Selalu kulihat wajah kecewanya, tapi aku tahu di wajahnya tersimpan kecuekan yang luar biasa. Dia tak perduli penolakanku, sehingga dia terus berusaha mendekatiku. Sebenarnya yang tidak kusukai dari dia adalah cara dia mendekatiku. Memang ada manusia yang berusaha menjalin tali persaudaraan dengan wajah sinis dan datarnya? Sungguh aneh. Tapi, entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Ingin... aku berbuat baik padanya. Oh iya, akhir-akhir ini aku bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Seperti saat temanku berjalan, di otakku lalu berkata bahwa dia akan ditabrak seseorang dari belakang, ditambah peningnya kepalaku. Beberapa menit kemudian, kejadian itu benar-benar terjadi. Aku ingin mengetahui darimana kekuatan ini berasal.
Suatu pagi di sekolah, aku berjalan pelan menuju perpustakaan bersama salah satu teman sekelasku. Kami harus menyelesaikan tugas mencari informasi tentang tata surya dan semacamnya. Kami terus tertawa-tawa selama perjalanan, sampai-sampai hampir saja aku menubruk pintu kelas yang terbuka. Tiba-tiba Hangga lewat dan melihatku. Aku balas menatapnya sinis, karena dia juga menatapku dengan sinis. Tapi, ada sesuatu yang aneh, dia menaiki tangga di sebelah perpustakaan. Tangga itu mengarah pada atap sekolah.
(Naungi belahan jiwamu. Dia akan menghembuskan nafas terakhir.)
Kepalaku pening kembali. Kulepas buku-buku yang daritadi kupegang di kedua tanganku. Aku terduduk lemas, berusaha menahan sakitnya kepala yang serasa ditusuk ribuan pedang. Aku berteriak dan tanpa sadar aku berdiri dan menaiki tangga yang dilalui Hangga tadi. Temanku bingung, ia hanya bisa mengambil buku-buku yang kujatuhkan tadi.
Angin berhembus kencang, awan bergerak pelan diatas kepalaku. Terlihat Hangga sedang menatap awan-awan di langit di pinggir atap sekolah. Sakit di kepalaku akhirnya hilang. Naungi? Apa maksudnya aku harus menolongnya? Memang dia mau apa? Dan darimana suara itu berasal? Sejak aku pingsan di jalan tempat Vina tertabrak, aku jadi mempunyai kekuatan aneh tersembunyi di dalam otakku. Kucoba memukul-mukul kepalaku, mungkin sebuah suara akan terdengar dari kepalaku. Tapi tidak bisa. Aku jadi malah sibuk sendiri daripada menegur Hangga yang sedang terlihat aneh.
“ Kau itu punya kekuatan mengetahui masa depan.” Kata Hangga singkat.
Aku kaget, sebab dia seolah mengetahui pikiranku. Apa dia punya sesuatu yang lebih dari dirinya? Hatiku bertanya-tanya.
“ Memang kamu tahu darimana bahwa aku punya kekuatan itu?” Tanyaku padanya.
“ Itu sebenarnya bawaan dari lahir. Tapi mungkin kekuatan itu baru muncul sekarang karena kau mempunyai masa lalu yang ingin kau lupakan. Seperti meninggalnya sahabat sejatimu. Penderitaan adalah kekuatanmu.”
Aku diam seribu bahasa. Dia mengetahui masa laluku, masa lalu saat kau pergi, Vina. Perih, kesakitan, kembali hadir merasuki hatiku. Kini rasa rindu itu tak terbendung lagi, aku ingin sekali lagi bertemu denganmu. Aku terisak-isak. Dan aku sangat tidak suka Hangga menceritakannya lagi.
“ Darimana kau tahu masa laluku? Kau bukan orang yang sangat kukenal. Dan bagaimana kau mengetahui alamat rumahku? Aku tahu kaulah yang menolongku saat aku pingsan di jalan itu. Benar kan?” Tanyaku bertubi-tubi.
Dia tersenyum datar, lagi.
“ Aku mempunyai kekuatan untuk mengetahui masa lalu sejak kecil. Sehingga aku bisa melihat alamat rumahmu lewat masa lalumu. Dan akhirnya, kau mau berbicara denganku.” Jelasnya ringan, lalu tersenyum tak seperti biasanya.
“ Kau mau bunuh diri ya?” Tanyaku.
Mata Hangga membelalak, kemudian menipis lagi. Dia menghembuskan nafasnya di lautan angin yang berhembus. Bajunya seakan terbang diterpa angin. Ia menunduk, tidak mau melihatku.
“ Aku bukan siapa-siapa lagi. Untuk apa aku hidup di dunia ini. Kau tak mau berbagi kebahagiaan denganku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tak punya keluarga.” Kata Hangga.
Setelah selesai berbicara, dia berusaha meloncat dari gedung, namun aku menarik baju belakangnya. Kami terjatuh bersamaan.
“ Kau bodoh! Kau pasti punya teman hidup! Tidak ada yang tidak punya teman hidup!” Teriakku padanya.
Hembusan angin semakin kencang, awan mulai menghitam. Beberapa menit kemudian, hujanpun turun. Kami terus bertatapan tanpa gerak sedikitpun. Aku lalu melepas tarikanku dan duduk di depannya. Hangga terus menundukkan kepalanya.
“ Aku yang akan jadi teman hidupmu.” Kataku sambil tersenyum.
Dia membelalakkan matanya lagi. Untuk pertama kalinya, dia tertawa begitu keras dan renyah, membuat wajahnya terkena guyuran hujan. Tentu aku heran, kenapa orang ini. Hujan sering diibaratkan kesedihan mendalam, tapi ternyata bisa mempunyai arti lain. Sesuatu yang kembali. Belahan jiwaku kembali lagi.
“ Akhirnya kau mengatakannya. Lama sekali aku menunggu.” Katanya. “ Oh iya, sebenarnya bisikan-bisikan di kepalamu itu berasal dari suara roh yang sudah mati dan itu orang terpenting bagimu. Mungkin itu temanmu yang meninggal dulu.”
Aku mengangguk-anggukan kepalaku mengerti. Jadi Vina masih tetap berada di hatiku. Aku senang dia masih mengingatku walau dia sudah berada di dunia lain. Aku juga akan selalu mengingatmu kawan. Selalu dan selamanya. Hujanpun reda, aku bisa melihat laut awan lagi. Untung saja teman-temanku tidak ada yang tahu, jadi kami tidak akan dihebohkan. Entah darimana, sekumpulan bunga dandelion berada di sekeliling kami, kemudian mereka terhembus angin. Aku tersenyum senang.
“ Eh, Era, Kalau kau mau menjadi teman hidupku, berarti aku boleh menjadi pacarmu kan?” Katanya sambil tertawa menggoda.
Dengan refleks, kujitak kepalanya dengan keras, seperti saat aku bertemu dengannya.
End
By Aily Nuna
Comment Wall
You need to be a member of Teens for Planet Earth to add comments!
Join Teens for Planet Earth